Skripsi, oh Skripsi….
Sebuah kata atau kegiatan yang ingin dilalui mahasiswa dalam tempo secepat mungkin. Tapi walaupun ingin menempuh ritual ini secepat mungkin tetapi kecepatan kegiatan skripsi ini tidaklah hanya ditentukan oleh pelaku saja tetapi juga ditentukan oleh dosen dan kesediaan data yang dibutuhkan.
Inilah pengalamanku…..
Aku mengambil skripsi tentang Hak Jawab, studi di Radar Malang. Sedang membutuhkan data mengenai pengguna Hak Jawab. Kebetulan yang menyedihkan, di Radar Malang tak ada data mengenai pengguna Hak Jawab. Jadi aku harus mencari di tumpukan ribuan koran di gudang Radar Malang (bayangkan banyaknya koran yang terkumpul mulai tahun 2001 samapai tahun 2010).
Setelah mencari baik di internet maupun di gudang koran, aku menemukan satu kasus yang menarik yaitu kasus mengenai orang utan “Tole” pada tahun 2003. Pengguna Hak Jawabnya adalah lembaga BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang tidak terima di beritakan secara tidak benar oleh Radar Malang.
Walaupun kasus lama tak ada salahnya menjadikannya sebagai sumber data. Sejak saat itu mulailah saya mencari di internet kontak BKSDA yang bisa di hubungi.
Nomor telpon BKSDA pertama yang ku dapat adalah BKSDA Jember yang kebetulan adalah BKSDA yang pada waktu itu menangani kasus tersebut. Setelah menghubungi BKSDA Jember, aku disuruh menghubungi BKSDA Surabaya yang merupakan pusat BKSDA Jatim dan aku dikasih nomor kontaknya. Tanpa menunggu lama aku langsung menghubungi kontak tersebut.
………….
Aku : mas saya mau melakukan penelitian mengenai Hak Jawab tentang kasus “Tole” di BKSDA. Apakah diperbolehkan?
Orang di ujung telpon : O iya, silahkan. Langsung saja kesini, percuma kalau saya jelaskan lewat telpon. Nanti anda tidak faham.
Aku : Baik lah, bisa minta alamat kantor BKSDA?
Orang di ujung telpon : Iya, alamat kantornya di sini ………………..
Aku : Senin saya kesitu mas.
………………….
Hari senin pagi tanggal 13 Juni 2011 habis subuh aku pergi ke kantor BKSDA Surabaya dengan naik bus. Sampai disana sekitar jam 07.30 WIB. Setelah menunggu lama sekitar jam 10.00 WIB aku baru dilayani.
…………………..
Orang BKSDA : Waduh mas, ini kasus lama mas. Kasus ini ada sebelum Balai Besar (Sebutan untuk pusat BKSDA) ada. Jadi lebih baik anda langsung saja ke Jember, soalnya dulu yang nangani kasus itu adalah BKSDA Jember.
Aku : Sebenarnya saya hari Jum’at kemarin sudah nelpon ke Jember katanya saya disuruh kesini. Dan Hari Jum’at juga saya menelpon ke sini katanya suruh langsung kesini. Saya kira datanya ada disini jadi saya kesini saja.
Orang BKSDA : O, bagitu ya…. Sebentar saya telpon BKSDA Jember. Akan saya tanyakan apakah anda bisa melakukan pengambilan data disana.
(orang tersebut mencari kontak di Blackberry-nya kemudian berbincang dengan seseorang).
Orang BKSDA : Iya mas, anda langsung saja ke Jember. Saya tadi sudah menelpon kesana katanya datanya masih ada.
Aku : jadi, langsung ke Jember saja? Saya disana menemui siapa? Bisa minta nomor telponnya?
Orang BKSDA : iya, langsung kesana saja. Ini nomor nya xxx. Nanti bilang saja mau bicara dengan Pak Deni atau Pak Samsul.
Aku : Ya sudah bu kalau begitu. Saya akan langsung ke Jember. Saya mohon undur diri.
……………………
Setelah itu aku langsung pulang. Jauh-jauh ke Surabaya pulang tanpa hasil. Tapi tak apalah sudah ada kejelasan kemana saja harus mencari data dan menemui siapa disana.
Karena keterbatasan dana dan stres setelah ada pencurian di tempat kerja, aku baru menghubungi BKSDA Jember hari jumat (17/6).
…………………….
Aku : saya limin dari Malang, mau mengadakan penelitian mengenai kasus “Tole” di BKSDA Jember. Bisa bicara dengan Pak Deni atau Pak Samsul?
Orang BKSDA Jember : iya sebentar, saya panggilkan Pak Samsul.
Pak Samsul : ini mahasiswa yang kemarin ke Balai Besar ya?
Aku : iya, saya mau mengadakan penelitian mengenai kasus “Tole”
Pak Samsul : iya-iya bisa. Anda langsung saja kesini. Anda cari data yang anda butuhkan. Anda punya kliping dari beritanya?
Aku : iya pak, saya punya-nya hanya klipinng dari berita yang memuat Hak Jawab BKSDA itu saja pak. Karena yang saya teliti bukan kasus “Tole” secara mendalam tetapi hanya penggunaan Hak Jawabnya saja pak.
Pak Samsul : jadi bukan meneliti kasus tersebut secara keseluruhan nya?
Aku : iya pak.
Pak Samsul : gak apa-apa. Nanti klippingnya anda bawa. Oh iya mas, nanti kalau kesini anda kontak dulu saya. Nanti takutnya nanti kesini eh ternyata orang yang bisa diajak wawancara tidak ada.
Aku : iya pak, nanti saya di BKSDA Jember menemui siapa?
Pak Samsul : nanti anda menemui pak Syafiudin, beliau yang menangani kasus tersebut mulai dari awal sampai akhir. Satu lagi mas, nanti anda kesini bawa surat ijin dari fakultas anda. Buat jaga-jaga, dari pada anda kesini ternyata tidak diperbolehkan, kan percuma..
Aku : iya pak. Terimakasih…
……………………….
Setelah itu saya bergegas ke kampus tuk buat surat ijin surve dari fakultas. Hanya satu tanda tangan yang ku dapat. Hanya dari Ketua Konsentrasi Hukum Pidana, satunya lagi dari pembimbing utama tidak di dapat karena yang bersangkutan masih di Singapura dan kembali hari sabtu.
Malam sabtu ku kerja sambil menyusun daftar pertanyaan yang nantinya akan saya ajukan. Sambil menyusun daftar pertanyaan ku berbisik dalam hati, “ni rental kok sepi amat ya?”. Sesaat kemudian ku terjingkat “masyaallah, senin depan kan udah mulai pekan sunyi. Kegiatan kampus masih aktif apa tidak ya? Dosenku ada apa tidak hari senin”. “Ah, pasti ada. Liburan aja ada dosen yang masih ada kegiatan di kampus apalagi pekan sunyi”.
Hari Sabtu ku sempatkan untuk pulang, selain melepas kangen karena udah lebih dari sebulan ndak pulang juga karena mau minta uang untuk surve ke Jember.
Hari senin datang, jam 09.00 ku bergegas ke kampus tuk mengecek dulu ada kegiatan apa tidak di kampus. Sesampainya dikampus ada banyak kendaraan yang terparkir di fakultas, menandakan masih ada kegiatan. Ku telpon Dosen yang ku cari..
…………..
Aku : Maaf pak, hari ini anda ke kampus apa tidak?
Dosen : saya tidak ada agenda ke kampus. Apa yang kamu butuhkan?
Aku : mau minta tanda tangan untuk surve ke pengguna Hak Jawab.
Dosen : Datang saja ke rumah, saya tidak ada agenda ke luar rumah. Kamu tahu rumahku apa tidak?
Aku : tidak tahu pak.
Dosen : di Jalan Papa Kuning xxx
Aku : iya pak.
………………….
Setelah tanya beberapa pasang mata dan beberapa teman akhirnya ketemu rumahnya. Dan langsung kudapat apa yang ku butuh. (sip!, besok bisa langsung ke Jember)
Senin jam 14:30 aku telpon BKSDA Jember.
…………….
Aku : ini dari limin di Malang, bisa bicara dengan pak Samsul?
Orang BKSDA : Sebentar….
Pak Samsul :Mas Limin ya? Ada apa mas?
Aku : Mau tanya pak. Bagaimana kalau penelitiannya besok selasa? Pak Syafiudinnya bisa apa tidak?
Pak Samsul : Sebentar, tak tanya dulu. Nanti saya SMS.
Aku : iya, mohon bantuannya. Terimakasih.
………………….
Setengah jam kemudian tak ada SMS yang datang, akhirnya aku telpon.
………………….
Aku : Pak Samsul, bagaimana? Apakah pak Syafiudin bisa?
Pak Samsul : iya bisa mas. Begini mas, aku tadi tanya ke pimpinan katanya anda harus memberikan surat tembusan ke Surabaya dulu.
Aku : Waduh, jadi harus ke Surabaya dahulu?
Pak Samsul : iya mas.
Aku : iya terimakasih.
………………..
Haduh, harus minta tanda tangan lagi. Ah ada akal, surat ijin itu ku tambahi kata tembusan kemudian di fotokopi warna aja.
Keesokan harinya, seperti biasa habis subuh ku berangkat ke Surabaya. Sesampainya disana aku langsung ditanyai orang BKSDA.
…………………..
Orang BKSDA : Ada apa mas?
Aku : saya mau penelitian di BKSDA Jember, saya disini mau memberikan surat tembusan.
(orang tersebut berbincang dengan orang lain yang juga berseragam)
Orang BKSDA : mana suratnya?
(aku serahkan surat tembusan terebut)
Orang BKSDA : anda tunggu dulu disini.
Nunggu, nunggu, nunggu dan nunggu mulai jam 7.30 sampai jam 10.00. Karena sepertinya surat yang aku bawa sama sekali gak ditanggapi akhirnya aku menelpon BKSDA Jember.
…………….
Aku : Pak Samsul, saya di Balai Besar hanya memberikan surat tembusan ataukah minta surat ijin surve di Jember?
Pak Samsul : Sebentar, tak tanya Mbak Evi
Aku : Tak tunggu pak, terimakasih.
……………….
Beberapa menit kemudian ada seseorang yang mendekat.
………………
Mbak Evi : Tadi suratnya dimana?
Aku : Di Bagian umum Mbak.
Mbak Evi : Sebentar tak carinya.
Aku : oke.
Mbak Evi : ini orangnya lagi rapat, anda tunggu sebentar lagi
…………………..
Nunggu, nunggu dan nunggu. Daripada nunggu gak jelas kayak gini mending keluar ja dulu cari makan. Setelah makan ngelanjutan aktivitas sebelumnya, nunggu, nunggu, dan nunggu.
Setelah nunggu lama dan gak disapa akhirnya jam 11.30 baru ada yang nyapa dan nyuruh saya ke lantai dua.
………………..
Orang BKSDA : Ini nunggu persetujuan dari bapaknya ini. Ini kasusnya kasus lama mas, ntah datanya masih ada apa tidak.
Aku : Datanya ada mas, kemarin saya sudah menelpon BKSDA Jember. Orang yang tahu kasusnya juga sudah bersedia untuk diwawancarai. Tinggal memberikan surat tembusan ke Balai Besar saja.
Orang BKSDA : Bentar mas….
Aku : Iya.
…………………………
Setelah melakukan perbincangan, orang tadi menghampiri saya dan menyuruh saya untuk mengikutinya. Ruang Umum adalah tujuannya.
Setelah nunggu sebentar (lagi….) saya dipersilahkan masuk dan ditanyai oleh Orang BKSDA perempuan yang berlogat sunda.
………………………..
Orang BKSDA : Mas, untuk hal yang seperti ini harus minta persetujuan dari pimpinan.
Aku : lho, begitu ya bu? Kemarin saya telpon ke Jember katanya hanya memberikan surat tembusan ke Balai Besar saja.
Orang BKSDA : Bentar tak telpon pimpinan cabang Jember dulu.
(blah, blah, blah….)
Orang BKSDA : Mas, anda tunggu pimpinan datang dulu. Hari ini kebetulan beliau sedang ada kegiatan di Jakarta. Anda cek minggu depan ke sini kelanjutannya.
Aku : ……………………..
Sebuah kata atau kegiatan yang ingin dilalui mahasiswa dalam tempo secepat mungkin. Tapi walaupun ingin menempuh ritual ini secepat mungkin tetapi kecepatan kegiatan skripsi ini tidaklah hanya ditentukan oleh pelaku saja tetapi juga ditentukan oleh dosen dan kesediaan data yang dibutuhkan.
Inilah pengalamanku…..
Aku mengambil skripsi tentang Hak Jawab, studi di Radar Malang. Sedang membutuhkan data mengenai pengguna Hak Jawab. Kebetulan yang menyedihkan, di Radar Malang tak ada data mengenai pengguna Hak Jawab. Jadi aku harus mencari di tumpukan ribuan koran di gudang Radar Malang (bayangkan banyaknya koran yang terkumpul mulai tahun 2001 samapai tahun 2010).
Setelah mencari baik di internet maupun di gudang koran, aku menemukan satu kasus yang menarik yaitu kasus mengenai orang utan “Tole” pada tahun 2003. Pengguna Hak Jawabnya adalah lembaga BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang tidak terima di beritakan secara tidak benar oleh Radar Malang.
Walaupun kasus lama tak ada salahnya menjadikannya sebagai sumber data. Sejak saat itu mulailah saya mencari di internet kontak BKSDA yang bisa di hubungi.
Nomor telpon BKSDA pertama yang ku dapat adalah BKSDA Jember yang kebetulan adalah BKSDA yang pada waktu itu menangani kasus tersebut. Setelah menghubungi BKSDA Jember, aku disuruh menghubungi BKSDA Surabaya yang merupakan pusat BKSDA Jatim dan aku dikasih nomor kontaknya. Tanpa menunggu lama aku langsung menghubungi kontak tersebut.
………….
Aku : mas saya mau melakukan penelitian mengenai Hak Jawab tentang kasus “Tole” di BKSDA. Apakah diperbolehkan?
Orang di ujung telpon : O iya, silahkan. Langsung saja kesini, percuma kalau saya jelaskan lewat telpon. Nanti anda tidak faham.
Aku : Baik lah, bisa minta alamat kantor BKSDA?
Orang di ujung telpon : Iya, alamat kantornya di sini ………………..
Aku : Senin saya kesitu mas.
………………….
Hari senin pagi tanggal 13 Juni 2011 habis subuh aku pergi ke kantor BKSDA Surabaya dengan naik bus. Sampai disana sekitar jam 07.30 WIB. Setelah menunggu lama sekitar jam 10.00 WIB aku baru dilayani.
…………………..
Orang BKSDA : Waduh mas, ini kasus lama mas. Kasus ini ada sebelum Balai Besar (Sebutan untuk pusat BKSDA) ada. Jadi lebih baik anda langsung saja ke Jember, soalnya dulu yang nangani kasus itu adalah BKSDA Jember.
Aku : Sebenarnya saya hari Jum’at kemarin sudah nelpon ke Jember katanya saya disuruh kesini. Dan Hari Jum’at juga saya menelpon ke sini katanya suruh langsung kesini. Saya kira datanya ada disini jadi saya kesini saja.
Orang BKSDA : O, bagitu ya…. Sebentar saya telpon BKSDA Jember. Akan saya tanyakan apakah anda bisa melakukan pengambilan data disana.
(orang tersebut mencari kontak di Blackberry-nya kemudian berbincang dengan seseorang).
Orang BKSDA : Iya mas, anda langsung saja ke Jember. Saya tadi sudah menelpon kesana katanya datanya masih ada.
Aku : jadi, langsung ke Jember saja? Saya disana menemui siapa? Bisa minta nomor telponnya?
Orang BKSDA : iya, langsung kesana saja. Ini nomor nya xxx. Nanti bilang saja mau bicara dengan Pak Deni atau Pak Samsul.
Aku : Ya sudah bu kalau begitu. Saya akan langsung ke Jember. Saya mohon undur diri.
……………………
Setelah itu aku langsung pulang. Jauh-jauh ke Surabaya pulang tanpa hasil. Tapi tak apalah sudah ada kejelasan kemana saja harus mencari data dan menemui siapa disana.
Karena keterbatasan dana dan stres setelah ada pencurian di tempat kerja, aku baru menghubungi BKSDA Jember hari jumat (17/6).
…………………….
Aku : saya limin dari Malang, mau mengadakan penelitian mengenai kasus “Tole” di BKSDA Jember. Bisa bicara dengan Pak Deni atau Pak Samsul?
Orang BKSDA Jember : iya sebentar, saya panggilkan Pak Samsul.
Pak Samsul : ini mahasiswa yang kemarin ke Balai Besar ya?
Aku : iya, saya mau mengadakan penelitian mengenai kasus “Tole”
Pak Samsul : iya-iya bisa. Anda langsung saja kesini. Anda cari data yang anda butuhkan. Anda punya kliping dari beritanya?
Aku : iya pak, saya punya-nya hanya klipinng dari berita yang memuat Hak Jawab BKSDA itu saja pak. Karena yang saya teliti bukan kasus “Tole” secara mendalam tetapi hanya penggunaan Hak Jawabnya saja pak.
Pak Samsul : jadi bukan meneliti kasus tersebut secara keseluruhan nya?
Aku : iya pak.
Pak Samsul : gak apa-apa. Nanti klippingnya anda bawa. Oh iya mas, nanti kalau kesini anda kontak dulu saya. Nanti takutnya nanti kesini eh ternyata orang yang bisa diajak wawancara tidak ada.
Aku : iya pak, nanti saya di BKSDA Jember menemui siapa?
Pak Samsul : nanti anda menemui pak Syafiudin, beliau yang menangani kasus tersebut mulai dari awal sampai akhir. Satu lagi mas, nanti anda kesini bawa surat ijin dari fakultas anda. Buat jaga-jaga, dari pada anda kesini ternyata tidak diperbolehkan, kan percuma..
Aku : iya pak. Terimakasih…
……………………….
Setelah itu saya bergegas ke kampus tuk buat surat ijin surve dari fakultas. Hanya satu tanda tangan yang ku dapat. Hanya dari Ketua Konsentrasi Hukum Pidana, satunya lagi dari pembimbing utama tidak di dapat karena yang bersangkutan masih di Singapura dan kembali hari sabtu.
Malam sabtu ku kerja sambil menyusun daftar pertanyaan yang nantinya akan saya ajukan. Sambil menyusun daftar pertanyaan ku berbisik dalam hati, “ni rental kok sepi amat ya?”. Sesaat kemudian ku terjingkat “masyaallah, senin depan kan udah mulai pekan sunyi. Kegiatan kampus masih aktif apa tidak ya? Dosenku ada apa tidak hari senin”. “Ah, pasti ada. Liburan aja ada dosen yang masih ada kegiatan di kampus apalagi pekan sunyi”.
Hari Sabtu ku sempatkan untuk pulang, selain melepas kangen karena udah lebih dari sebulan ndak pulang juga karena mau minta uang untuk surve ke Jember.
Hari senin datang, jam 09.00 ku bergegas ke kampus tuk mengecek dulu ada kegiatan apa tidak di kampus. Sesampainya dikampus ada banyak kendaraan yang terparkir di fakultas, menandakan masih ada kegiatan. Ku telpon Dosen yang ku cari..
…………..
Aku : Maaf pak, hari ini anda ke kampus apa tidak?
Dosen : saya tidak ada agenda ke kampus. Apa yang kamu butuhkan?
Aku : mau minta tanda tangan untuk surve ke pengguna Hak Jawab.
Dosen : Datang saja ke rumah, saya tidak ada agenda ke luar rumah. Kamu tahu rumahku apa tidak?
Aku : tidak tahu pak.
Dosen : di Jalan Papa Kuning xxx
Aku : iya pak.
………………….
Setelah tanya beberapa pasang mata dan beberapa teman akhirnya ketemu rumahnya. Dan langsung kudapat apa yang ku butuh. (sip!, besok bisa langsung ke Jember)
Senin jam 14:30 aku telpon BKSDA Jember.
…………….
Aku : ini dari limin di Malang, bisa bicara dengan pak Samsul?
Orang BKSDA : Sebentar….
Pak Samsul :Mas Limin ya? Ada apa mas?
Aku : Mau tanya pak. Bagaimana kalau penelitiannya besok selasa? Pak Syafiudinnya bisa apa tidak?
Pak Samsul : Sebentar, tak tanya dulu. Nanti saya SMS.
Aku : iya, mohon bantuannya. Terimakasih.
………………….
Setengah jam kemudian tak ada SMS yang datang, akhirnya aku telpon.
………………….
Aku : Pak Samsul, bagaimana? Apakah pak Syafiudin bisa?
Pak Samsul : iya bisa mas. Begini mas, aku tadi tanya ke pimpinan katanya anda harus memberikan surat tembusan ke Surabaya dulu.
Aku : Waduh, jadi harus ke Surabaya dahulu?
Pak Samsul : iya mas.
Aku : iya terimakasih.
………………..
Haduh, harus minta tanda tangan lagi. Ah ada akal, surat ijin itu ku tambahi kata tembusan kemudian di fotokopi warna aja.
Keesokan harinya, seperti biasa habis subuh ku berangkat ke Surabaya. Sesampainya disana aku langsung ditanyai orang BKSDA.
…………………..
Orang BKSDA : Ada apa mas?
Aku : saya mau penelitian di BKSDA Jember, saya disini mau memberikan surat tembusan.
(orang tersebut berbincang dengan orang lain yang juga berseragam)
Orang BKSDA : mana suratnya?
(aku serahkan surat tembusan terebut)
Orang BKSDA : anda tunggu dulu disini.
Nunggu, nunggu, nunggu dan nunggu mulai jam 7.30 sampai jam 10.00. Karena sepertinya surat yang aku bawa sama sekali gak ditanggapi akhirnya aku menelpon BKSDA Jember.
…………….
Aku : Pak Samsul, saya di Balai Besar hanya memberikan surat tembusan ataukah minta surat ijin surve di Jember?
Pak Samsul : Sebentar, tak tanya Mbak Evi
Aku : Tak tunggu pak, terimakasih.
……………….
Beberapa menit kemudian ada seseorang yang mendekat.
………………
Mbak Evi : Tadi suratnya dimana?
Aku : Di Bagian umum Mbak.
Mbak Evi : Sebentar tak carinya.
Aku : oke.
Mbak Evi : ini orangnya lagi rapat, anda tunggu sebentar lagi
…………………..
Nunggu, nunggu dan nunggu. Daripada nunggu gak jelas kayak gini mending keluar ja dulu cari makan. Setelah makan ngelanjutan aktivitas sebelumnya, nunggu, nunggu, dan nunggu.
Setelah nunggu lama dan gak disapa akhirnya jam 11.30 baru ada yang nyapa dan nyuruh saya ke lantai dua.
………………..
Orang BKSDA : Ini nunggu persetujuan dari bapaknya ini. Ini kasusnya kasus lama mas, ntah datanya masih ada apa tidak.
Aku : Datanya ada mas, kemarin saya sudah menelpon BKSDA Jember. Orang yang tahu kasusnya juga sudah bersedia untuk diwawancarai. Tinggal memberikan surat tembusan ke Balai Besar saja.
Orang BKSDA : Bentar mas….
Aku : Iya.
…………………………
Setelah melakukan perbincangan, orang tadi menghampiri saya dan menyuruh saya untuk mengikutinya. Ruang Umum adalah tujuannya.
Setelah nunggu sebentar (lagi….) saya dipersilahkan masuk dan ditanyai oleh Orang BKSDA perempuan yang berlogat sunda.
………………………..
Orang BKSDA : Mas, untuk hal yang seperti ini harus minta persetujuan dari pimpinan.
Aku : lho, begitu ya bu? Kemarin saya telpon ke Jember katanya hanya memberikan surat tembusan ke Balai Besar saja.
Orang BKSDA : Bentar tak telpon pimpinan cabang Jember dulu.
(blah, blah, blah….)
Orang BKSDA : Mas, anda tunggu pimpinan datang dulu. Hari ini kebetulan beliau sedang ada kegiatan di Jakarta. Anda cek minggu depan ke sini kelanjutannya.
Aku : ……………………..


